Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah terlepas dari orang-orang disekelilingnya, baik itu keluarga, kerabat, teman, bahkan dengan orang yang belum dikenal sekalipun. Setiap hari, dalam banyak aspek kehidupan, kita senantiasa berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dikarenakan, kita memerlukan kehadiran mereka dalam rangka memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masing-masing individu. Mulai dari kebutuhan untuk sekedar mengobrol, meminta bantuan, maupun kebutuhan yang erat kaitannya dengan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari.
Dari sekian banyaknya hal yang kita lakukan bersama orang lain, tidak jarang kita merasakan hal yang menyenangkan karena pernah merasa terbantu oleh keberadaan seseorang ataupun merasa kecewa karena secara tak sengaja telah menyakiti perasaan orang lain. Namun, dari setiap bentuk komunikasi kita dengan orang lain itu, pernahkah kita menyadari pentingnya untuk menyelipkan kata “ Maaf ” – kata yang mampu mengekspresikan bentuk penyesalan karena mungkin kita telah menyakiti perasaan orang lain, yang kedua adalah kata “ Tolong” – kata yang diucapkan ketika membutuhkan bantuan dari orang disekeliling kita, dan kata ketiga adalah “ Terima kasih ” – suatu ucapan sebagai bentuk apresiasi terhadap orang lain yang telah memberikan hal positif (baik itu materi maupun non materi) pada kita.
Dari tiga kata itu, seberapa sering kita mampu mengucapkan (sesuai porsi dan fungsi masing-masing kata) dalam komunikasi sehari-hari ? Cenderung sering, cukup sering ataukah kita termasuk individu yang cenderung melupakan / menganggap hal tersebut tidak penting ?
Ada banyak hal yang mungkin menyebabkan kita terkadang mengesampingkan penggunaan tiga kata tersebut (bahkan penulispun masih kerap melakukan hal ini ). Salah satunya mungkin karena kita menganggap kata-kata tersebut kurang begitu penting sehingga tidak perlu diucapkan. Toh orang lain akan maklum dan sudah tau apa maksud kita tanpa harus mengatakannya. Ilustrasinya demikian A sedang sibuk mengetik dan tiba-tiba ia memerlukan dokumen penting yang terletak didekat meja B. Tanpa melirik, A pun mengatakan “ Eh ambilin berkas dilemari deket mejamu”. Dari contoh tersebut, A cenderung tidak menyertakan kata Tolong karena A yakin B sudah mengerti maksud A yang memerlukan bantuan B untuk mengambilkan dokumen yang dibutuhkannya. Sesuatu yang kerap terjadi disekeliling kita bukan ?
Faktor lain yang mungkin menyebabkan kita cenderung mengabaikan kata-kata sederhana tersebut adalah munculnya rasa gengsi. Terutama bila hal itu berkaitan dengan kata Maaf dan juga Terima kasih. Menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya untuk meminta maaf pada orang lain (lebih-lebih pada orang yang usianya lebih muda) manakala kita tanpa sengaja (maupun sengaja) telah menyinggung perasaan mereka. Demikian pula dengan ucapan terima kasih, entah itu karena adanya rasa gengsi untuk mengapresiasi kebaikan yang telah dilakukan orang pada kita ataupun munculnya rasa gengsi sehingga muncul dalam benak “ Buat apa bilang terima kasih? Sudah biasa ini.” Singkat kata, ungkapan Maaf, Tolong, dan Terima kasih, merupakan tiga kata sederhana namun sangat mahal harganya.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah lepas dari lingkungannya (orang lain, red). Tentu tidak jarang kita telah menyakiti perasaan teman atau keluarga dan kita tidak mengucapkan kata “ maaf ”, kita pun kerap meminta bantuan orang lain namun lupa menyelipkan kata ” tolong “ , dan kata ”terima kasih“ kadang tidak terucap saat ada seseorang yang dengan ikhlas memberikan bantuannya pada kita. Padahal, sebenarnya kata-kata tersebut adalah suatu bentuk penghargaan kita terhadap keberadaan orang lain.
Mengapa ?
Tanpa kita sadari, seseorang akan merasa termotivasi memberikan bantuan yang tulus ketika kita tidak lupa menyelipkan kata tolong dalam percakapan. Kemudian, setiap orang tentu merasa senang ketika bantuan yang diberikan ternyata memberikan kontribusi bagi yang membutuhkan dan jerih payah tersebut dihargai meski hanya dengan sebuah kata terima kasih. Lalu kata ketiga, maaf, memiliki efek positif dalam sebuah hubungan. Dengan kita mengakui kesalahan yang disengaja maupun tidak, akan membuat orang yang mungkin merasa “dirugikan” menjadi maklum dan tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Kata maaf bukanlah wujud menang-kalah atau gengsi semata. Namun kata maaf merupakan cerminan individu yang memiliki jiwa sportif karena dengan besar hati mau mengakui kesalahan dan menyesal karena mungkin telah menyinggung perasaan orang lain.
Hidup adalah tempat bagi kita untuk belajar, yakni belajar menjadi sosok pribadi yang lebih baik setiap harinya. Kita pun akan senantiasa hidup dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya bila kita membiasakan diri untuk menyelipkan kata maaf, tolong, dan terima kasih dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengucapkan kata-kata itu, kita telah belajar untuk menghargai keberadaan orang disekeliling kita.