Senin, 11 Mei 2009

Tiga Kata Sederhana yang kadang Terlupakan


Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah terlepas dari orang-orang disekelilingnya, baik itu keluarga, kerabat, teman, bahkan dengan orang yang belum dikenal sekalipun. Setiap hari, dalam banyak aspek kehidupan, kita senantiasa berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dikarenakan, kita memerlukan kehadiran mereka dalam rangka memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masing-masing individu. Mulai dari kebutuhan untuk sekedar mengobrol, meminta bantuan, maupun kebutuhan yang erat kaitannya dengan pekerjaan atau rutinitas sehari-hari.

Dari sekian banyaknya hal yang kita lakukan bersama orang lain, tidak jarang kita merasakan hal yang menyenangkan karena pernah merasa terbantu oleh keberadaan seseorang ataupun merasa kecewa karena secara tak sengaja telah menyakiti perasaan orang lain. Namun, dari setiap bentuk komunikasi kita dengan orang lain itu, pernahkah kita menyadari pentingnya untuk menyelipkan kata “ Maaf ” – kata yang mampu mengekspresikan bentuk penyesalan karena mungkin kita telah menyakiti perasaan orang lain, yang kedua adalah kata “ Tolong” – kata yang diucapkan ketika membutuhkan bantuan dari orang disekeliling kita, dan kata ketiga adalah “ Terima kasih ” – suatu ucapan sebagai bentuk apresiasi terhadap orang lain yang telah memberikan hal positif (baik itu materi maupun non materi) pada kita.

Dari tiga kata itu, seberapa sering kita mampu mengucapkan (sesuai porsi dan fungsi masing-masing kata) dalam komunikasi sehari-hari ? Cenderung sering, cukup sering ataukah kita termasuk individu yang cenderung melupakan / menganggap hal tersebut tidak penting ?

Ada banyak hal yang mungkin menyebabkan kita terkadang mengesampingkan penggunaan tiga kata tersebut (bahkan penulispun masih kerap melakukan hal ini ). Salah satunya mungkin karena kita menganggap kata-kata tersebut kurang begitu penting sehingga tidak perlu diucapkan. Toh orang lain akan maklum dan sudah tau apa maksud kita tanpa harus mengatakannya. Ilustrasinya demikian A sedang sibuk mengetik dan tiba-tiba ia memerlukan dokumen penting yang terletak didekat meja B. Tanpa melirik, A pun mengatakan “ Eh ambilin berkas dilemari deket mejamu”. Dari contoh tersebut, A cenderung tidak menyertakan kata Tolong karena A yakin B sudah mengerti maksud A yang memerlukan bantuan B untuk mengambilkan dokumen yang dibutuhkannya. Sesuatu yang kerap terjadi disekeliling kita bukan ?

Faktor lain yang mungkin menyebabkan kita cenderung mengabaikan kata-kata sederhana tersebut adalah munculnya rasa gengsi. Terutama bila hal itu berkaitan dengan kata Maaf dan juga Terima kasih. Menjadi sesuatu yang sangat mahal harganya untuk meminta maaf pada orang lain (lebih-lebih pada orang yang usianya lebih muda) manakala kita tanpa sengaja (maupun sengaja) telah menyinggung perasaan mereka. Demikian pula dengan ucapan terima kasih, entah itu karena adanya rasa gengsi untuk mengapresiasi kebaikan yang telah dilakukan orang pada kita ataupun munculnya rasa gengsi sehingga muncul dalam benak “ Buat apa bilang terima kasih? Sudah biasa ini.” Singkat kata, ungkapan Maaf, Tolong, dan Terima kasih, merupakan tiga kata sederhana namun sangat mahal harganya.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah lepas dari lingkungannya (orang lain, red). Tentu tidak jarang kita telah menyakiti perasaan teman atau keluarga dan kita tidak mengucapkan kata “ maaf ”, kita pun kerap meminta bantuan orang lain namun lupa menyelipkan kata ” tolong “ , dan kata ”terima kasih“ kadang tidak terucap saat ada seseorang yang dengan ikhlas memberikan bantuannya pada kita. Padahal, sebenarnya kata-kata tersebut adalah suatu bentuk penghargaan kita terhadap keberadaan orang lain.

Mengapa ?

Tanpa kita sadari, seseorang akan merasa termotivasi memberikan bantuan yang tulus ketika kita tidak lupa menyelipkan kata tolong dalam percakapan. Kemudian, setiap orang tentu merasa senang ketika bantuan yang diberikan ternyata memberikan kontribusi bagi yang membutuhkan dan jerih payah tersebut dihargai meski hanya dengan sebuah kata terima kasih. Lalu kata ketiga, maaf, memiliki efek positif dalam sebuah hubungan. Dengan kita mengakui kesalahan yang disengaja maupun tidak, akan membuat orang yang mungkin merasa “dirugikan” menjadi maklum dan tidak lagi mempermasalahkan hal tersebut. Kata maaf bukanlah wujud menang-kalah atau gengsi semata. Namun kata maaf merupakan cerminan individu yang memiliki jiwa sportif karena dengan besar hati mau mengakui kesalahan dan menyesal karena mungkin telah menyinggung perasaan orang lain.

Hidup adalah tempat bagi kita untuk belajar, yakni belajar menjadi sosok pribadi yang lebih baik setiap harinya. Kita pun akan senantiasa hidup dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak berlebihan kiranya bila kita membiasakan diri untuk menyelipkan kata maaf, tolong, dan terima kasih dalam berinteraksi dengan orang lain. Dengan mengucapkan kata-kata itu, kita telah belajar untuk menghargai keberadaan orang disekeliling kita.

POWER OF THE DREAMS


Judul diatas merupakan judul salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Celine Dion. Jujur sebelum memahami makna lagu itu, saya anggap biasa saja arti sebuah mimpi. Namun ketika lagu itu saya pahami benar-benar maknanya, saya merasa bahwa lirik dalam lagu itu memiliki daya magis yang begitu hebat bagi kita yang memang mempunyai mimpi. Saya tidak mengkritisi atau beropini dari segi lirik, namun yang ingin saya share kan adalah bagaimana menginternalisasikan makna tersirat dari lagu itu agar kita tidak meremehkan sebuah mimpi seseorang.

Setiap orang pasti memiliki sebuah atau banyak mimpi dalam hidupnya. Keinginan untuk menjadi dokter, aktris terkenal, hingga berangan-angan menjadi seorang presiden (layaknya Barack Obama yang dapat mewujudkan impiannya menjadi seorang presiden). Mimpi merupakan angan yang ada dalam pikiran dan pikiran kita adalah sebuah magnet yang memiliki daya tarik luar biasa yang mampu menjadi ”pilot” atas apa yang ingin kita wujudkan. Yang perlu kita pahami adalah, sekali kita merencanakan dan menanamkan mimpi dalam pikiran, fisik kita pun akan berupaya mencari cara bagaimana kita dapat merealisasikan apa yang menjadi impian kita itu. Semakin kuat gambaran mimpi (dalam mental) yang kita miliki, semakin besar energi yang kita punya untuk merealisasikannya.

Sebenarnya impian adalah penggerak bagi setiap langkah kita dalam hidup ini. Hanya saja tanpa disadari, terkadang kita masih suka mengemasnya dalam kalimat-kalimat negatif yang mungkin dipengaruhi oleh faktor eksternal (misalnya ditertawakan orang lain) maupun faktor internal (misal merasa tidak punya kemampuan). Jika kita senantiasa dipenuhi pikiran-pikiran negatif, hal ini justru akan menarik energi negatif dan membuat kita terdemotivasi dalam meraih mimpi itu.

Tidak ada mimpi yang nilainya biasa saja, karena setiap mimpi sangatlah istimewa dan spesial bagi seseorang. Mimpi menurut saya, membuat indah hidup orang yang memiliki dan mempercayainya. Mimpi bukanlah sesuatu yang bisa kita remehkan. Mimpi adalah harapan dan tidak ada mimpi yang tidak realistis. Mimpi akan menjadi harapan nyata manakala kita meyakini kekuatan dari mimpi. Hal inilah yang akan membuat seseorang termotivasi untuk meraih, mendapatkan, dan merasakan indahnya mimpi itu kelak. Karena, mimpi hanya membutuhkan dua hal, faith dan juga effort to make it come true seberat apapun keadaan yang kita hadapi. Yakinlah bahwa kekuatan itu ada dalam setiap langkah kita dalam meraih mimpi meskipun kadang muncul pikiran bahwa ini sulit untuk kita lalui. Setiap pengalaman yang muncul dalam upaya meraih mimpi merupakan pelajaran berharga yang akan membawa kita lebih dekat pada kekuatan akan mimpi itu sendiri.

Mimpi akan membuat hidup kita memiliki tujuan dan arah. Mimpi juga membuat kita senantiasa “hidup” dan hidupkanlah setiap mimpi-mimpi indah itu dengan berbekal keyakinan serta kekuatan yang terdapat dalam setiap langkah kita...

“ The power of the dream

The faith in things unseen

The courage to embrace your fear

No matter where you are

To reach for your own star

To realize the power of the dream “

(Power of the dreams by Celine Dion...Inspiring song that encourage me not to give up in everything I do and I believe in all of my dreams...)

PERFEKSIONISME



Perfeksionisme merupakan sifat yang umum di kalangan remaja, khususnya di kalangan remaja yang berbakat atau berprestasi tinggi. Menurut penelitian, 87,5 persen siswa berbakat di sebuah sekolah memiliki kecenderungan perfeksionis. Kecenderungan ini dapat terus berlanjut hingga dewasa.

Apa perfeksionisme itu?

Perfeksionisme adalah kepercayaan bahwa seseorang harus sempurna secara mutlak dalam semua yang ia lakukan dan kurangnya kepuasan secara terus-menerus. Akibatnya, perfeksionisme menjadi sumber kronis dari stres, dan seringkali membuat orang tersebut merasa dirinya gagal. Itulah sebabnya sebuah narasumber mendefinisikan perfeksionisme sebagai kepercayaan yang tidak rasional bahwa seseorang dan/atau lingkungannya harus sempurna. Itu adalah sikap yang sangat meluas bahwa apa pun yang ia upayakan dalam kehidupan harus dilakukan dengan sempurna tanpa penyimpangan, kesalahan, kekeliruan, atau ketidak-konsistenan.

Berupaya mengejar prestasi dan menetapkan cita-cita yang tinggi tetapi realistis memang bagus. Dengan demikian, seseorang dapat membuat dirinya menikmati kepuasan karena kerja kerasnya. Akan tetapi, perfeksionisme mencakup lebih dari sekedar berupaya mengejar prestasi atau merasa puas atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Orang yang perfeksionis kehilangan kepuasan yang sesungguhnya. Pandangannya akan prestasi sangat tidak sehat.

Ada perbedaan besar antara secara masuk akal mengejar prestasi dan secara tidak masuk akal mengejar cita-cita yang tidak mungkin tercapai. Orang yang berupaya mengejar prestasi mungkin sangat membutuhkan keteraturan dan pengorganisasian. Mereka menuntut banyak dari diri sendiri, tetapi mereka juga menerima kesalahan mereka sendiri dan memiliki cara-cara positif untuk menanganinya. Di pihak lain, seorang perfeksionis selalu khawatir untuk berbuat salah. Mereka memiliki standar yang terlalu tinggi.

Seorang perfeksionis bekerja keras di bawah ilusi bahwa ia dapat sempurna dalam arti mutlak. Akibatnya, mereka mungkin menuntut terlalu banyak dari orang lain. Para perfeksionis adalah orang yang frustrasi karena cara orang lain melakukan pekerjaan mereka. Menurut pendapat mereka, orang-orang di sekitar mereka tidak peduli dengan mutu pekerjaan, dan juga tidak bangga dengan kinerja mereka.

Dalam menjalin relasi interpersonal, seorang perfeksionis cenderung kurang berhasil. Karena menginginkan semuanya serba sempurna, ia kehilangan kebanyakan sahabatnya. Ia merasa bahwa orang lain terlalu tidak sempurna. Ia bahkan cenderung menolak siapa pun yang tidak memenuhi standarnya, dan akhirnya ia tidak memiliki teman.

Perfeksionis lain mungkin mengharapkan kesempurnaan, bukan dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Ia merasa bahwa dirinya atau tindakannya tidak cukup baik, dan ia khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Ia menetapkan standar-standar yang terlalu tinggi dan mudah merasa tak berdaya. Melakukan sesuatu hal yang baru mungkin menjadi keengganan baginya. Ia cenderung menunda hal-hal penting karena takut gagal.

Apa penyebab perfeksionisme?

Perfeksionisme bukanlah penyakit. Manusiapun tidak terlahir dengannya. Lalu apa yang menjadi penyebab perfeksionisme? Beberapa pakar percaya bahwa perfeksionisme berkembang selama masa kanak-kanak. Berbagai tekanan dari keluarga, diri sendiri, lingkungan sekitar, media, dan anutan yang tidak realistis berkombinasi menjadi dorongan kuat yang menjerumuskan beberapa orang ke dalam kehidupan yang sarat dengan kekhawatiran, perasaan bersalah, dan bekerja terlalu keras seumur hidupnya. Apapun penyebabnya, selalu menuntut kesempurnaan dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri.

Apa akibatnya jika ingin menjadi sempurna?

Mengejar kesempurnaan seringkali terbukti tidak sehat dan merusak, bukannya menyehatkan dan bermanfaat. Sudut pandang seperti itu seringkali membuat seseorang gagal, bukannya berprestasi. Perfeksionisme dapat menghambat proses belajar. Pada tingkat yang ekstrem, beberapa perfeksionis merasa lebih baik mati daripada gagal. Ketakutan akan kegagalan mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri. Sekalipun demikian, kebanyakan dari mereka tidak mempertimbangkan langkah sedrastis itu. Kebanyakan dari mereka lebih baik tidak menyerahkan tugas daripada dinilai salah, tidak bangga dengan karya mereka, dan membuat banyak dalih atas kegagalannya.

Perfeksionis lain mungkin juga bersikap ekstrem dalam memastikan kesuksesan mereka. Mereka suka begadang mengerjakan tugas atau proyek sekolah supaya hasilnya betul-betul sempurna. Hal ini justru menjadi tidak produktif. Siswa yang mengantuk lebih cenderung tidak mampu mengerjakan tugasnya dengan baik.

Pada akhirnya, perfeksionisme terkait dengan kemarahan kronis, perasaan rendah diri, perasaan bersalah, pesimisme, kelainan perilaku makan, dan depresi. Oleh karena itu, jelaslah bahwa keinginan untuk menjadi selalu sempurna merupakan hal yang berbahaya dan tidak sehat.

Tips Untuk Dapat Berhenti Berupaya Menjadi Sempurna

Perfeksionisme merupakan kepercayaan bahwa seseorang dan/atau lingkungannya harus sempurna secara mutlak. Seorang perfeksionis memiliki standar yang terlalu tinggi yang ia terapkan pada diri sendiri dan/atau orang lain. Ia mungkin menghancurkan dirinya sendiri karena perfeksionisme dapat menimbulkan problem yang serius. Oleh karena itu, jika Anda seorang perfeksionis, berhentilah berupaya menjadi sempurna. Memang hal ini sulit untuk dilakukan, namun ada beberapa tips yang semoga dapat membantu Anda:

1. Sadarilah bahwa kesempurnaan bukan cita-cita yangdapat dicapai

2. Sesuaikan harapan Anda

3. Pelajari sesuatu yangbaru

4. Jangan menunda-nunda pekerjaan

5. Singkirkan pikiran yang merusak diri

6. Tetapkanlah standar yang realistis terhadap orang lain

7. Berbahagialah dengan diri Anda apa adanya meski Anda tidak sempurna