Perfeksionisme merupakan sifat yang umum di kalangan remaja, khususnya di kalangan remaja yang berbakat atau berprestasi tinggi. Menurut penelitian, 87,5 persen siswa berbakat di sebuah sekolah memiliki kecenderungan perfeksionis. Kecenderungan ini dapat terus berlanjut hingga dewasa.
Apa perfeksionisme itu?
Perfeksionisme adalah kepercayaan bahwa seseorang harus sempurna secara mutlak dalam semua yang ia lakukan dan kurangnya kepuasan secara terus-menerus. Akibatnya, perfeksionisme menjadi sumber kronis dari stres, dan seringkali membuat orang tersebut merasa dirinya gagal. Itulah sebabnya sebuah narasumber mendefinisikan perfeksionisme sebagai kepercayaan yang tidak rasional bahwa seseorang dan/atau lingkungannya harus sempurna. Itu adalah sikap yang sangat meluas bahwa apa pun yang ia upayakan dalam kehidupan harus dilakukan dengan sempurna tanpa penyimpangan, kesalahan, kekeliruan, atau ketidak-konsistenan.
Berupaya mengejar prestasi dan menetapkan cita-cita yang tinggi tetapi realistis memang bagus. Dengan demikian, seseorang dapat membuat dirinya menikmati kepuasan karena kerja kerasnya. Akan tetapi, perfeksionisme mencakup lebih dari sekedar berupaya mengejar prestasi atau merasa puas atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Orang yang perfeksionis kehilangan kepuasan yang sesungguhnya. Pandangannya akan prestasi sangat tidak sehat.
Ada perbedaan besar antara secara masuk akal mengejar prestasi dan secara tidak masuk akal mengejar cita-cita yang tidak mungkin tercapai. Orang yang berupaya mengejar prestasi mungkin sangat membutuhkan keteraturan dan pengorganisasian. Mereka menuntut banyak dari diri sendiri, tetapi mereka juga menerima kesalahan mereka sendiri dan memiliki cara-cara positif untuk menanganinya. Di pihak lain, seorang perfeksionis selalu khawatir untuk berbuat salah. Mereka memiliki standar yang terlalu tinggi.
Seorang perfeksionis bekerja keras di bawah ilusi bahwa ia dapat sempurna dalam arti mutlak. Akibatnya, mereka mungkin menuntut terlalu banyak dari orang lain. Para perfeksionis adalah orang yang frustrasi karena cara orang lain melakukan pekerjaan mereka. Menurut pendapat mereka, orang-orang di sekitar mereka tidak peduli dengan mutu pekerjaan, dan juga tidak bangga dengan kinerja mereka.
Dalam menjalin relasi interpersonal, seorang perfeksionis cenderung kurang berhasil. Karena menginginkan semuanya serba sempurna, ia kehilangan kebanyakan sahabatnya. Ia merasa bahwa orang lain terlalu tidak sempurna. Ia bahkan cenderung menolak siapa pun yang tidak memenuhi standarnya, dan akhirnya ia tidak memiliki teman.
Perfeksionis lain mungkin mengharapkan kesempurnaan, bukan dari orang lain, tetapi dari diri sendiri. Ia merasa bahwa dirinya atau tindakannya tidak cukup baik, dan ia khawatir dengan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya. Ia menetapkan standar-standar yang terlalu tinggi dan mudah merasa tak berdaya. Melakukan sesuatu hal yang baru mungkin menjadi keengganan baginya. Ia cenderung menunda hal-hal penting karena takut gagal.
Apa penyebab perfeksionisme?
Perfeksionisme bukanlah penyakit. Manusiapun tidak terlahir dengannya. Lalu apa yang menjadi penyebab perfeksionisme? Beberapa pakar percaya bahwa perfeksionisme berkembang selama masa kanak-kanak. Berbagai tekanan dari keluarga, diri sendiri, lingkungan sekitar, media, dan anutan yang tidak realistis berkombinasi menjadi dorongan kuat yang menjerumuskan beberapa orang ke dalam kehidupan yang sarat dengan kekhawatiran, perasaan bersalah, dan bekerja terlalu keras seumur hidupnya. Apapun penyebabnya, selalu menuntut kesempurnaan dapat merusak kehidupan manusia itu sendiri.
Apa akibatnya jika ingin menjadi sempurna?
Mengejar kesempurnaan seringkali terbukti tidak sehat dan merusak, bukannya menyehatkan dan bermanfaat. Sudut pandang seperti itu seringkali membuat seseorang gagal, bukannya berprestasi. Perfeksionisme dapat menghambat proses belajar. Pada tingkat yang ekstrem, beberapa perfeksionis merasa lebih baik mati daripada gagal. Ketakutan akan kegagalan mendorong mereka untuk melakukan bunuh diri. Sekalipun demikian, kebanyakan dari mereka tidak mempertimbangkan langkah sedrastis itu. Kebanyakan dari mereka lebih baik tidak menyerahkan tugas daripada dinilai salah, tidak bangga dengan karya mereka, dan membuat banyak dalih atas kegagalannya.
Perfeksionis lain mungkin juga bersikap ekstrem dalam memastikan kesuksesan mereka. Mereka suka begadang mengerjakan tugas atau proyek sekolah supaya hasilnya betul-betul sempurna. Hal ini justru menjadi tidak produktif. Siswa yang mengantuk lebih cenderung tidak mampu mengerjakan tugasnya dengan baik.
Pada akhirnya, perfeksionisme terkait dengan kemarahan kronis, perasaan rendah diri, perasaan bersalah, pesimisme, kelainan perilaku makan, dan depresi. Oleh karena itu, jelaslah bahwa keinginan untuk menjadi selalu sempurna merupakan hal yang berbahaya dan tidak sehat.
Tips Untuk Dapat Berhenti Berupaya Menjadi Sempurna
Perfeksionisme merupakan kepercayaan bahwa seseorang dan/atau lingkungannya harus sempurna secara mutlak. Seorang perfeksionis memiliki standar yang terlalu tinggi yang ia terapkan pada diri sendiri dan/atau orang lain. Ia mungkin menghancurkan dirinya sendiri karena perfeksionisme dapat menimbulkan problem yang serius. Oleh karena itu, jika Anda seorang perfeksionis, berhentilah berupaya menjadi sempurna. Memang hal ini sulit untuk dilakukan, namun ada beberapa tips yang semoga dapat membantu Anda:
1. Sadarilah bahwa kesempurnaan bukan cita-cita yangdapat dicapai
2. Sesuaikan harapan Anda
3. Pelajari sesuatu yangbaru
4. Jangan menunda-nunda pekerjaan
5. Singkirkan pikiran yang merusak diri
6. Tetapkanlah standar yang realistis terhadap orang lain
7. Berbahagialah dengan diri Anda apa adanya meski Anda tidak sempurna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar